oh please, dasar anak SMP! bisa-bisanya gue dulu yg sok idealis bilang, "gue nggak mau pacaran kalo belom kuliah atau dapet kerja. apaan sih, kecil-kecil pacaran." dan gue kena bumerang alias dampak dari omongan gue sendiri. dan sekarang gue, yang sialnya nggak pernah di tolak seumur hidup gue kena dampak rasa sakitnya di tolak. and because this is for the first time, gue nangis nggak karuan. padahal gue dengan entengnya dulu mikir, "yaelah di tolak bukan akhir dunia kaleee." dan emang bukan sih.
cuma rasanya, gimana yaaa, you've been waiting so long tapi akhirnya lo di tolak gitu. how damn? okeh, sekarang gue ngerti rasanya dan nggak akan nyepelein hal-hal yang dulunya gue anggep 'yaelah gitu doang'
well, setelah gue dapet penolakan secara terang-terangan, padahal gue udah nungguin dia pulang dari siang sampe malem dan ngorbanin harga diri gue yang biasanya gue pasang dengan sangat tinggi kini dengan begitu mudahnya gue jatohin Love, oh, Love.

sialan, padahal itu kan cuma mantan. aaarrrgghh! Love, Oh, Love.
gue tungguin dia dari siang sampe malem cuma karena gue kangen berat + terbawa suasana, gue yang biasanya nggak sabaran kini dengan sabar nungguin dia pulang. dan begitu dia pulang, gue langsung sms dia.gue bilang, "aku hari ini nggak satnite, aku dari tadi nungguin kamu tau." dengan harapan dia bakal luluh, dan ternyata gue salah. dia malah bales, "Hah? ngapain? aku kan bukan siapa2 kamu lagi. hehe. maaf ya, aku ga bisa."
gue kontan langsung melongo, gue nggak pernah di gituin. dan yang paling penting dia nggak pernah nolak apapun permintaan gue kecuali dalam kondisi yang bener-bener terdesak. nggak tau kenapa gue langsung nangis
kejer. rasanya kayak ada yang nohok dada gue.dalem hati gue mikir, 'oh,ini rasanya di tolak? ini rasanya patah hati? kenapa gue bisa cengeng cuma karena hal sepele gini doang, sih?'dengan keselnya gue ngambil hape dan langsung nelpon orang yang menurut gue paling bisa gue andelin. Aldi. nama itu yang serta-merta lewat di otak gue. nada bunyi dua kali dan suara Aldi yang rada serek langsung nyaut,
"halo."
gue yang masih belom bisa ngomong apa-apa cuma terus nangis.
"Lulu, lo kenapa?" suara Aldi jelas banget kedengeran paniknya.
gue masih aja terus nangis.
"Lu, lo kenapa? cerita, cerita." Aldi masih dengan sabarnya dengerin tangisan gue yang nggak enak banget di denger.
"Lu... bilang dong, ada apa?" Aldi ngomongnya hati-hati banget. gue kaget Aldi bisa selembut ini.
"gue..." masih dengan terisak. sumpah isakan gue sama sekali nggak imut menurut gue.
"ya?" Aldi masih nunggu dengan sabar. tapi paniknya keliatan banget. setakut itukah dia gue kenapa-kenapa?
"gue, nggak..." gue ngelanjutin isakan gue yang ternyata belom selesai. "gue nggak tau gimana jelasinnya."
"yaudah pelan-pelan aja."
"tapi lo nggak bakal ngerti..." rengek gue masih takut cerita.
"yaudah cerita aja dulu. gue ngerti atau nggak, itu urusan belakangan."
dan akhirnya gue cerita di selingin rengekan dan isakan nggak jelas gue. dan selama itu Aldi dengerin dengan sabar. gue nggak tau dia ngerti atau nggak, yang gue tau dia nanggepin semuanya dengan baik banget.
---------------------------------------------------------------------------------------
"......dia tuh nggak pernah ada buat gue, Di. gue tau gue tolol ngarepin dia, tapi gimana dong? gue butuh dia."
dan ini part yang nggak gue suka dari Aldi. kayaknya dia mengenyampingkan atau bahkan membuang harga diri dan gengsi gue yang dia tau banget ngalahin puncak gunung himalaya saking tingginya *lebeh mode on*.
"yaudah, lo temuin dia, lo bilang gitu sama dia."
"......." whats?
"lo bilang kalo lo sayang dan butuh dia. bisa kan?" Aldi ngomong seenteng bulu.
"heh, muka gue mau di taroh di mana Aldiii?" suara gue mencicit.
"Tong sampah." Aldi ngomong seringan kapas.
"SERIUS"
Aldi ketawa, "yaudah udah nempel di muka susah amat sih." Aldi diem sebentar terus buka mulut lagi. "Atau gue yang bilang sini sama dia?"
whats? gue rasa Aldi rada-rada. "NO!" gue langsung nolak dengan tegas

secara itu tuh sama aja gitudeh... aaaargh Aldi...
tapi intinya kalo gue ada apa-apa dia selalu bilang, "Kalo ada apa-apa cerita sama gue ya, Lu."
haha, dia tuh kakak banget buat gue, sayang dia bukan kakak gue...
yaaaah, yang jelas we're more than just a friend, we're something that I can't tell




